Santri Baru (cerita pendek)
Dini hari, keluarga Bapak Somad sudah
bangkit dari tempat tidur dan meninggalkan alam mimpi mereka masing-masing.
Setelah
salat shubuh berjamaah, sang ibu lantas bermain peran di dapur. Sesekali
aksinya dengan alat masak menciptakan bunyi seakan memecah suyinya pagi. Di
ruang lain tedengar suara ayah tengah mengomel. Bagaimana tidak, pagi ini
anaknya harus berangkat ke perantuan tempat menimba ilmu, tetapi barang yang
hendak dibawa masih menumpuk di atas tempat tidur belum selesai terkemas.
Sang
anak hanya diam, wajahnya terlihat memerah. Air matanya sebentar lagi tumpah
karena tak kuasa tertahan. Sang anak, aku, ahh campur aduk sekali rasanya.
Ingin marah tapi kepada siapa. Sungguh sangat durhaka jika aku marah kepada
orang tua.
Ayah
yang sedari tadi mengomel akhirnya
berhenti ketika melihat aku mulai menangis. Air mata dalam waktu singkat
mengucur deras di pipi. Tak lama kemudian aku terisak hebat. Ayah langsung
mengambil tempat dan duduk di depanku. Menangkupkan kedua telapak tangannya di
pipiku yang sudah sangat basah. Perlahan-lahan mengusap, menghapus air mata
yang masih tersisa di wajahku. Ayah lalu meraih tubuhku masuk ke dalam
pelukannya. Aku pun kembali terisak dan menenggelamkan wajahku ke pelukan ayah.
“Ayah... Zahra gak mau pergi.”
(rengekku sembari menangis).
“Kenapa gak mau pergi? Kan kita sudah
membicarakan ini sebelumnya. Ini yang terbaik buat Zahra.” (kata ayah dengan
suara lembut menenangkan).
“Zahra gak mau pisah sama ayah ibu.”
“Kemarin kan udah bilang mau, kok
sekarang bilang gak mau lagi?” (terlihat ayah sedikit kecewa).
“Zahra belum siap pisah sama ayah
sama ibu. Zahra mau tetep sama ayah ibu.” (masih menyisakkan sesenggukan).
“Loh masa iya ayah sama ibu ikut
tinggal di pesantren.” (ledek ayah sambil tertawa mencairkan suasana).
“Ayaahh..” (rengekku, sambil sedikit tertawa
mendengar ledekan ayah).
“Sudah, sudah ya nangisnya. Mungkin
di awal Zahra akan merasa berat, tapi nanti kalau sudah lama pasti terbiasa.
Zahra harus semangat. Masa iya menuntut ilmu gak semangat. Katanya Zahra ingin
jadi perempuan salehah, ya harus mau belajar. Belajar mengenal Allah, belajar
menjadi perempuan yang taat, belajar menjadi perempuan yang punya akhlak yang
baik, dan belajar banyak lagi. Katanya mengidolakan putri Rasulullah, Fatimah
Az-Zahra, lah kok mau menuntut ilmu mentalnya udah lembek aja. Udah ya
nangisnya.” (Bujuk ayah yang selalu berhasil meluluhkan hatiku).
“Iya ayah.”(Patuhku seraya berhenti
menangis).
Ayah
perlahan melepaskan pelukannya dan memperlihatkan senyum di wajahnya kemudian
mengangguk ke arahku, terlihat beliau meyakinkan diriku bahwa aku pasti mampu,
aku pasti bisa.
Terlihat
ibu di depan pintu, yang ternyata sedari tadi memperhatikan interaksiku dengan
ayah. Beliau kemudian berjalan ke arahku sambil tersenyum lalu duduk di
sampingku. Membawaku ke dalam pelukannya, membelai lembut rambutku dengan
tangan kanannya.
“Zahra mandi dulu ya, biar ibu yang
lanjutin kemas barangnya. Nanti kita sarapan bersama.” (Kata Ibu menenangkan).
Aku,
Aurelia Zahranida, terlahir dalam keluarga dengan latar belakang agama yang
kuat. Kedua orang tuaku memiliki riwayat pendidikan kepesantrenan. Tidak heran
jika aku kali ini diterjunkan ke dunia pesantren juga. Dipastikan pula bahwa
calon adikku yang masih dalam kandungan ibu juga akan dimasukkan ke dalam
pesantren.
Usiaku
yang menginjak 15 tahun dan baru saja lulus dari SMP. Kali ini aku harus
melanjutkan sekolahku lebih jauh lagi dari rumah. Tinggal di pesantren dan
melanjutkan pendidikan formal di SMA terdekat dengan pesantren.
Setelah
aku selesai mandi, berpakaian rapi, segera aku menuju meja makan yang sudah
penuh. Di sana sudah ada dua malaikatku, ayah dan ibu. Dengan senyuman yang
menenangkan menyambutku. Pagi ini meja makan tidak seperti biasa, semua makanan
yang tersaji adalah makanan kesukaanku.
Aku memandangi makanan
yang sudah tersaji satu per satu dengan rasa haru. Aku bahagia, hidangan ini
menunjukan bahwa kedua orang tuaku sangat menyayangiku. Aku harus benar-benar
menikmati momen bersama ini dengan sungguh. Di sisi lain, ada kesedihan terbesit di hatiku. Setelah
ini, entah kapan lagi aku menikmati makan bersama dengan keluarga, mengingat
pesantrenku cukup jauh.
“Zahra... makanannya kok cuma
diliatin.” (tegur ayah).
“Ibu masakin ini khusus buat kamu
Zahra, yuk dimakan. Apa masakannya gak suka?”
“Suka kok bu, iya ini Zahra mau
makan.”
Setelah
semuanya siap, ayah mulai memasukkan koper ke dalam bagasi mobil. Sedangkan aku
tentunya sedang berpamitan dengan ibu dan memohon doa restu. Pastinya air
mataku mulai berjatuhan lagi. Namun dengan segera ibu menghapus air mataku.
Beliau mengangguk seraya tersenyum dan menepuk pundakku.
“Zahra pasti bisa.” (kata ibu meyakinkan).
Kepergianku
kali ini hanya diantar oleh ayah, mengingat usia kehamilan ibu yang sudah
semakin tua. Beliau tidak diperbolehkan mengalami kelelahan. Ahh... berat
sekali rasanya meninggalkan rumah. Tapi bagaimana lagi, aku tidak mau
mengecewakan kedua malaikatku di dunia. Serta keinginanku untuk menjadi
perempuan yang salehah harus terealisasikan, tentunya dengan usaha menimba ilmu
agama.
Kursi
penumpang bagian depan, samping pengemudi, yang biasa diduduki oleh ibu kini
diambil alih olehku. Kudapati wajah ayah berseri, bibirnya melengkung ke atas
dengan sempurna. Tangannya dengan lihai memutar setir ke kanan dan ke kiri
sesuai arah jalan yang kian berlalu. Terlihat sekali beliau sedang bahagia dan
amat bersyukur.
Ku tengok kaca mobil
sebelahku, ku pandangi rumah demi rumah teman sepermainanku. Selain berpisah
dengan ayah ibu, aku juga harus siap berpisah dengan teman-temanku. Tapi kata
ayah, di pesantren nantinya aku pasti menjumpai teman-teman baru. Bukan hanya
teman bermain, namun juga teman belajar menimba ilmu.
Setengah
perjalanan, tepat pukul sembilan, ayah memutuskan berhenti dan mampir ke Masjid
Agung Semarang. Sudah menjadi kebiasaan keluarga kami untuk Salat Dhuha pada
pukul sembilan. Aku pun yakin ibu di rumah sedang melaksanakan Salat Dhuha juga. Aku berpisah dengan ayah, karena
tentu saja lantai satu dipenuhi oleh kaum adam. Akhirnya ayah menyuruhku untuk
melaksanakan Salat di lantai dua.
Dua rekaat dengan surah
Asy-Syams dan Ad-Dhuha terasa sudah cukup bagiku. Sekelilingku tidak ramai,
terasa sunyi namun tenang. Ku ambil tas kecil merah, mencari tasbih pemberian
ayah. Dzikir pagi dan lantunan salawat jangan sampai lupa kata ayah.
Setibanya di lantai satu,
ku lihat ayah dari jauh, ternyata beliau belum selesai. Tangan kanannya masih
setia dengan tasbih miliknya. Matanya terpejam dan kepalanya menunduk. Terlihat
khusyuk sekali sekalipun di sampingnya banyak orang.
Setelah urusanku dan ayah
di Masjid Agung Semarang selesai, kami melanjutkan perjalanan kami. Empat jam
perjalanan akhirnya sampai di Kota Kediri. Plang nama pesantren yang hendak
kudatangi, mulai sering ku dapati. 5 KM, 3 KM, 2 KM, 1 KM, ahh dag dig dug tidak karuan melebihi cepat detaknya
detik.
“Pondok Pesantren Al
Mukmin Kediri”, terbaca jelas di pintu masuk oleh mata ini. Ayah dan aku sampai
pukul 13.30 siang hari, bebarengan dengan bubarnya para santri dari masjid
selepas Salat Dhuhur dan mengaji. Wajah berseri dengan mukena putih, jalan
bersama beriring. Tangan kanan memeluk kitab suci, sajadah diselempangkan pada
pundak kiri. Tak sedikit yang lewat dengan senyum dan sapa kepada kami.
Dua
diantara mereka mendekat dan menghampiri ayah dan aku.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam”(Jawab ayah dan aku)
“Mari kami antar ke bagian
administrasi pak.”(tanpa memberitahu, sepertinya dua orang santri ini sudah
paham apa maksud kami)
Setelah
menyelesaikan urusan administrasi, ayah dan aku lalu diantar ke rumah pengasuh
pesantren. Rumah sederhana yang berada tepat di samping masjid. Pelatarannya
dipenuhi dengan tanaman hias yang tumbuh subur. Gemericik air kolam menambah
suasana semakin asri dan menyejukan hati. Begitu memasuki ruang tamu, ada
banyak kaligrafi bernilai seni nan indah di setiap pojok dinding.
Ketika
abah dan umi mulai menuju ruang tamu, ayah kemudian bersalaman dengan abah dan
aku tentu saja bersalaman dengan umi dan mencium tangan umi. Perbincangan kami
cukup lama, terlebih ayah telah saling mengenal dengan abah dan umi.
Setelah
semua perbincangan dirasa cukup, ayah dan aku berpamitan. Kini tibalah dimana
aku benar-benar harus berpisah dengan ayah untuk waktu yang lama. Setelah ayah
menurunkan koper dan semua barangku dari mobil. Air mataku jatuh, sesak sekali
rasanya, gemuruh di dada ingin terluapkan.
“Zahra, sini..” (Panggil ayah pelan)
“Yang sabar, yang ikhlas, yang kuat.
Ingat kata ayah, awal akan terasa berat tapi nantinya akan terbiasa.” (Ayah
membelai kepalaku yang sudah terbungkus rapi dengan jilbab)
“Iya ayah.”(Jawabku masih menangis)
“Ayah sungguh ingin Zahra jadi anak
salehah. Ayah ingin Zahra menjadi perempuan yang baik-baik, ayah tidak ingin
Zahra salah pergaulan. Ayah ingin Zahra, ayah, dan ibu berkumpul di surga
kelak.” (Ucap ayah sambil menangis)
Ya
tuhan, baru kali ini aku melihat ayah menangis. Menyayat hati sekali. Beliau
sungguh menyayangiku, senantiasa menuntun dan membimbing aku supaya tidak jauh
dari ridho Allah.
Mobil
ayah perlahan menjauh, semakin menjauh hingga tak terlihat lagi oleh mataku.
Aku sekarang benar-benar tinggal di pesantren. Kemandirianku tentunya dituntut
di sini. Seperti kata ayah, awalnya akan terasa berat namun nantinya pasti
terbiasa. Aku pasti bisa.
Identitas Penulis
Nama :
Diah Soniawati
No. Whatsapp : 087719977661
Email :
diahsoniawati@gmail.com
Comments
Post a Comment